Pemilihan umum presiden dan wakil presiden sebentar lagi akan digelar, tentunya akan timbul suatu pertanyaan dalam benak kita tentang siapa yang nantinya bakal memimpin Negara ini. Seperti yang kita ketahui, pemilihan umum kali ini diramaikan oleh tiga nama pasangan calon kandidat presiden dan wakil presiden, antara lain pasangan Jusuf Kalla dan Wiranto, SBY Boediono, serta Megawati dan Prabowo.
Mendengar ketiga nama pasangan tersebut tentunya sudah tidak asing lagi di telinga kita, sebab mereka adalah orang-orang lama yang sudah pernah berkecimpung dalam dunia politik Indonesia. Namun yang sebenarnya menjadi pertanyaan besar pada diri kita adalah siapakah diantara mereka yang mampu membawa bangsa ini menjadi bangsa besar dan berkembang ??
Selain diramaikan oleh ketiga pasangan tersebut, pemilu kali ini juga turut diramaikan oleh janji-janji manis yang keluar dari ketiga mulut mereka. Seperti yang kita lihat belakangan ini baik di media eloektronik maupun cetak, ketiga pasangan tersebut saling beradu argument dan saling menebar janji guna mendapat rasa simpati dari masyarakat. Sebenarnya hal itu bukan menjadi masalah jika janji-janji tersebut dapat diaplikasikan dalam praktek politik yang akan diterapkan nantinya. Akan tetapi, yang menjadi masalah adalah jika janji-janji itu tidak dapat diwujudkan dalam praktek politiknya.
Menurut saya, dalam pemilu kali ini mestinya para calon harus lebih waspada terhadap tanda-tanda yang menunjukkan semakin menurunnya rasa kepercayaan yang dimiliki oleh masyarakat, terutama pada kalangan pemilih usia muda. Hal ini dapat kita lihat dari data Golput pada pemilu legislatif kemarin yang jumlahnya cukup signifikan.
Masalah dan situasi ekonomi politik saat ini menjadi latar belakang bagi para calon presiden dan wakil presiden untuk mengobral janji kepada masyarakat. Contohnya saja disaat masalah kemiskinan menjadi masalah yang sangat besar bagi bangsa Indonesia, para calon kandidat presiden dan wakil presiden hadir untuk saling berlomba-lomba unjuk diri sebagai perwujudan sikap pro rakyat dan anti kemiskinan. Terkadang janji-janji tersebut terlalu baik sehingga sulit untuk diwujudkan, atau tidak sebanding dengan apa yang telah dilakukannya. Hal ini sangatlah menjadi masalah besar bagi rakyat, sebab janji-janji yang diharapkan dapat menjadi solusi bagi kemajuan bangsa malah menjadi mimpi belaka.
Berdasarkan data yang saya dapatkan dari LPMIS, keleluasaan partai dan calon presiden serta wakil presiden dalam mengobral janji disebabkan karena tiga hal, diantaranya yaitu pertama ketiadaan atau kekosongan ideology dalam tradisi partai politik di Indonesia. Sehingga partai dan para calon tidak memiliki pijakan dan arah yang menuntun langkah politik para calon dan partai dalam memenuhi cita-cita kolektif rakyat. Yang menjadi faktor pembimbingnya adalah kekuasaan. Sebab dengan kekuasaan, seorang presiden akan dengan mudah merealisasikan tujuan-tujuan pribadinya, mengumpulkan harta, status, keistimewaan social, kepuasan seksual, dan lain sebagainya.
Kedua tipe demokrasi di Indonesia yang belum melahirkan instrument kekuasaan rakyat yang memungkinkan kontrol terhadap janji-janji politik elit-politik. Ketiga kebudayaan sebagai faktor pembentuk mental masih dipengaruhi oleh feodalisme, sehingga cenderung memaafkan kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh para elit-politik.
Dengan melihat gambaran serta uraian data di atas, tentunya kita sebagai calon pemilih nantinya harus lebih berhati-hati dan cermat dalam menentukan siapa calon pemimpin dan wakil bangsa ini. Dan jangan sampai kita mudah termakan oleh janji-janji manis yang dilontarkan oleh para calon kandidat presiden dan wakil presiden. Nantinya kita harus dapat menjadi pemilih yang cerdas. Sebab sesungguhnya kemajuan dan kemunduran bangsa ini ada di tangan kita semua.
Mendengar ketiga nama pasangan tersebut tentunya sudah tidak asing lagi di telinga kita, sebab mereka adalah orang-orang lama yang sudah pernah berkecimpung dalam dunia politik Indonesia. Namun yang sebenarnya menjadi pertanyaan besar pada diri kita adalah siapakah diantara mereka yang mampu membawa bangsa ini menjadi bangsa besar dan berkembang ??
Selain diramaikan oleh ketiga pasangan tersebut, pemilu kali ini juga turut diramaikan oleh janji-janji manis yang keluar dari ketiga mulut mereka. Seperti yang kita lihat belakangan ini baik di media eloektronik maupun cetak, ketiga pasangan tersebut saling beradu argument dan saling menebar janji guna mendapat rasa simpati dari masyarakat. Sebenarnya hal itu bukan menjadi masalah jika janji-janji tersebut dapat diaplikasikan dalam praktek politik yang akan diterapkan nantinya. Akan tetapi, yang menjadi masalah adalah jika janji-janji itu tidak dapat diwujudkan dalam praktek politiknya.
Menurut saya, dalam pemilu kali ini mestinya para calon harus lebih waspada terhadap tanda-tanda yang menunjukkan semakin menurunnya rasa kepercayaan yang dimiliki oleh masyarakat, terutama pada kalangan pemilih usia muda. Hal ini dapat kita lihat dari data Golput pada pemilu legislatif kemarin yang jumlahnya cukup signifikan.
Masalah dan situasi ekonomi politik saat ini menjadi latar belakang bagi para calon presiden dan wakil presiden untuk mengobral janji kepada masyarakat. Contohnya saja disaat masalah kemiskinan menjadi masalah yang sangat besar bagi bangsa Indonesia, para calon kandidat presiden dan wakil presiden hadir untuk saling berlomba-lomba unjuk diri sebagai perwujudan sikap pro rakyat dan anti kemiskinan. Terkadang janji-janji tersebut terlalu baik sehingga sulit untuk diwujudkan, atau tidak sebanding dengan apa yang telah dilakukannya. Hal ini sangatlah menjadi masalah besar bagi rakyat, sebab janji-janji yang diharapkan dapat menjadi solusi bagi kemajuan bangsa malah menjadi mimpi belaka.
Berdasarkan data yang saya dapatkan dari LPMIS, keleluasaan partai dan calon presiden serta wakil presiden dalam mengobral janji disebabkan karena tiga hal, diantaranya yaitu pertama ketiadaan atau kekosongan ideology dalam tradisi partai politik di Indonesia. Sehingga partai dan para calon tidak memiliki pijakan dan arah yang menuntun langkah politik para calon dan partai dalam memenuhi cita-cita kolektif rakyat. Yang menjadi faktor pembimbingnya adalah kekuasaan. Sebab dengan kekuasaan, seorang presiden akan dengan mudah merealisasikan tujuan-tujuan pribadinya, mengumpulkan harta, status, keistimewaan social, kepuasan seksual, dan lain sebagainya.
Kedua tipe demokrasi di Indonesia yang belum melahirkan instrument kekuasaan rakyat yang memungkinkan kontrol terhadap janji-janji politik elit-politik. Ketiga kebudayaan sebagai faktor pembentuk mental masih dipengaruhi oleh feodalisme, sehingga cenderung memaafkan kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh para elit-politik.
Dengan melihat gambaran serta uraian data di atas, tentunya kita sebagai calon pemilih nantinya harus lebih berhati-hati dan cermat dalam menentukan siapa calon pemimpin dan wakil bangsa ini. Dan jangan sampai kita mudah termakan oleh janji-janji manis yang dilontarkan oleh para calon kandidat presiden dan wakil presiden. Nantinya kita harus dapat menjadi pemilih yang cerdas. Sebab sesungguhnya kemajuan dan kemunduran bangsa ini ada di tangan kita semua.
AYO JADILAH PEMILIH YANG CERDAS DAN PROAKTIF, DEMI TERWUJUDNYA SISTEM DEMOKRASI YANG BAIK. SUKSESKAN PEMILU 2009 !!!
3 komentar:
inti.ny jgn golput aj klo mw negara sukses bt kedepan.ny..
ayo!
ikut gerakan anti golput!!!!!
kita sukseskan pilpres mendatang
siapapun pemenangnya, meskipun dia belum kuliah (mega), tapi kita tetep menghormati.
ok
y smoga negara kita d pimpin oleh orng yng tepat...
amen sodara...
Posting Komentar